Kartini Dalam Diri Aisha

 
Dini gelisah mendengar cerita Carla tentang Aisha sahabat barunya di Sekolah Harapan Kita. “Apa benar kalau Aisha itu menjadi pengemis?”ujarnya sembari mengernyitkan dahinya.
“Kamu nggak percaya? Lihat saja kalau dia menabung, memangnya uang darimana dia bisa menabung sebanyak itu?”bisik Carla.
Memang Bu Ani menganjurkan siswa kelas IV untuk menabung sebagian uang jajannya untuk persiapan kalau sewaktu-waktu ada iuran membeli buku, menjenguk teman yang sakit, kegiatan sosial, dan lain sebagainya. Namun semakin hari, makin banyak siswa yang cinta dengan kegiatan menabung, termasuk Aisha.
Dini tahu kalau Aisha memiliki tabungan yang lumayan banyak, tapi yang dia tahu karena Aisha memang tidak suka jajan sembarangan. “Aisha kan suka membawa bekal makanan dan minuman sendiri dari rumah, makanya dia bisa menabung uang sakunya,”tepis Dini berusaha membela sahabatnya.
“Kamu kan anak baru disini. Kalau tidak percaya, datang saja ke Alun-alun kota pada sore hari. Dia pasti ada disana untuk mengemis,”ujar Carla bersemangat.
“Loh! Memangnya orang tuanya tidak melarang?”tanya Dini setengah tidak percaya.
“Ya enggaklah, dia kan mengemis bareng orang tuanya,”jawab Carla dibarengi tawa teman-temannya.
“Sudahlah, Din. Aisha itu hanya sok baik, padahal dia punya tujuan lain,”timpal Santi. “Anak kayak gitu nggak baik dijadikan sahabat. Jauhi saja Aisha, biar dia tahu rasa!”
Carla dan sahabatnya segera berlari ke bangkunya saat melihat Aisha masuk ke kelas. Dengan tenang Aisha duduk disebelah Dini yang pikirannya tengah berkecamuk akibat cerita Carla dan gengnya.
“Sudah mengerjakan tugas Matematika, Din?”tanya Aisha ramah.
“Ehm..ehm.. sudah!”ujar Dini gugup.
Aisha cenderung pendiam dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Tapi dia anak yang cerdas dan rajin, karena itulah tak heran jika banyak guru yang suka padanya. Semenjak pindah dari Jakarta, Aisha menjadi satu-satunya sahabat yang sangat mengerti dan mau membantu Dini mengejar ketinggalan mata pelajaran. Tapi, entah kenapa Dini jadi merasa tidak nyaman setelah mendengar cerita Carla.
Minggu pagi, Dini dan keluarganya pergi ke Alun-alun kota untuk berolahraga. Seperti biasanya, suasana nampak ramai oleh pengunjung yang sengaja datang untuk ikut senam bareng, main sepatu roda, jalan-jalan, atau hanya sekedar sarapan pagi di warung-warung tenda yang berjajar di sekitar taman kota tersebut.
Setelah mengikuti senam pagi, Dini dan keluarganya menyempatkan diri untuk membeli sarapan di sekitar Alun-alun. Mata Dini terbelalak saat melihat anak perempuan seusianya tengah menenteng karung sembari memungut gelas dan botol air mineral yang berserakan di pelataran alun-alun.
Merasa tidak yakin dengan penglihatannya, Dini segera berlari menghampiri anak perempuan tersebut,”Aisha? Kamu…. “ujar Dini tak sanggup melanjutkan pertanyaannya.
“Dini! Akhirnya kamu tahu siapa diriku. Aku seorang pemulung,”ucap Aisha tampak sedih.
 Dini terhenyak mendengar cerita Aisha. Sejak kecil dia hidup bersama ayahnya yang bekerja sebagai tukang sapu di alun-alun, karena ibunya meninggal akibat sakit jantung. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Dini membantu ayahnya mengumpulkan sampah plastik yang kemudian dijual. Uang hasil penjualannya langsung ditabung ke Bu Ani untuk persiapan melanjutkan sekolahnya kelak.
“Jadi kamu punya banyak uang bukan dari mengemis?”tanya Dini spontan.
Aisha tersenyum sembari meletakkan karung yang sedari tadi dalam gendongannya,”aku tidak pernah mengemis, memang ada sebagian orang yang mungkin kasihan padaku dan memberikan sejumlah uang,”jawab Aisha dengan tenang.
Dini merasa bersalah karena sudah termakan cerita bohong Carla dan gengnya. Kini Dini dapat melihat betapa besarnya semangat Aisha untuk bisa meraih pendidikan yang lebih baik. “Maafkan aku, Aisha. Hampir saja aku membencimu karena berprofesi sebagai pengemis,”ujar Dini sembari menggenggam erat tangan Aisha.
***
Kedua orang tua Dini merasa penasaran setelah mendengar cerita Dini tentang sahabat barunya yang bernama Aisha. Mereka merasakan banyak perubahan pada diri Dini semenjak bersahabat dengan Aisha. Ternyata Semangat Aisha dalam menuntut ilmu dan menghadapi kehidupan membuat Dini ikut terpacu untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Di hari ulang tahun Dini yang jatuh pada tanggal 21 April ini, kedua orang tuanya sengaja memberikan surprise yang sangat istimewa. “Trataa……”teriak ayah dan Bunda Dini sembari menggandeng tangan Aisha untuk diserahkan kepada anak semata wayangnya, Dini.
“Maksudnya apa ini?” tanya Dini kebingungan.
“Mulai sekarang, Kartini kecil ini akan menjadi saudaramu karena ayah dan bunda memutuskan akan membantu menyekolahkan Aisha bersama kamu sampai setinggi-tingginya,”jawab Bunda nampak semangat.
Dini langsung memeluk tubuh Aisha dengan perasaan suka cita,”semoga mimpimu untuk meraih pendidikan yang lebih baik lagi bisa terwujud.”

Cerpen Anak ini dimuat di Radar Bojonegoro.


Loading...
Previous
Next Post »
loading...