Loading...

Pengakuan Dosa! Perlu Nggak Sich?

Pernahkah kalian membuat pengakuan dosa kepada teman, saudara, suami, atau siapapun? Kira-kira apa sich tujuannya? Pengakuan dosa kepada Allah sich sudah wajib, karena tanpa kalian mengakupun, Allah Maha Melihat apa yang kita kerjakan di dunia ini. Jadi pengakuan dosa kepada Allah sebagai wujud permohonan ampun yang sebenar-benarnya kepada Allah (taubatan nasuha). (Baca juga : Keutamaan mendoakan orang lain)
Lalu bagaimana kalau kita membuat pengakuan dosa kepada selain Allah? Hem, kayaknya perlu juga sich, asalkan pengakuan dosa tersebut bertujuan untuk mendapatkan keridhoan orang yang bersangkutan atau mengembalikan hak-hak orang tersebut, misalnya : kita pernah sengaja mengambil hak orang tersebut tanpa izin (mencuri), pernah menyakiti perasaannya, dan lain sebagainya.
Lalu, adakah pengakuan dosa yang tidak layak diucapkan kepada selain Allah?(Baca juga : Waspadai Bahaya Ain pada anak)
Athiyah Saqar menyebutkan jika ada seorang wanita yang pernah melakukan maksiat, tapi dia tidak menyebarluaskan perbuatannya, maka dia tidak perlu memberitahukan tentang masa lalunya kepada calon suaminya. Umar bin Khottob ra juga pernah melarang seorang ayah yang hendak menjelaskan aib putrinya kepada calon pasangannya.
Jadi, seorang wanita yang pernah melakukan perbuatan zina di masa lalunya dan sudah bertaubat dengan taubatan nasuha atas perbuatannya tersebut diperbolehkan untuk tidak menceritakan aib masa lalunya kepada calon pasangannya. Hal itu, dikarenakan Allah sudah menutupi aib tersebut, sebagaimana Sabda Rasulullah Saw,
”Setiap umatku mendapat pemaafan kecuali orang yang menceritakan (aibnya sendiri). Sesungguhnya diantara perbuatan menceritakan aib sendiri adalah seorang yang melakukan suatu perbuatan (dosa) di malam hari dan sudah ditutupi oleh Allah swt kemudian dipagi harinya dia sendiri membuka apa yang ditutupi Allah itu.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Setiap orang yang hidup di bumi ini pastilah pernah melakukan dosa, baik kecil atau besar, baik disengaja maupun tidak. Islam agama penuh rahmat yang mengajarkan agar setiap umatnya untuk membersihkan diri dari noda dan dosa dengan bertaubat melalui amalan dan perbuatan yang sesuai dengan syariat. Taubat dapat menghapuskan dosa-dosa kita meskipun sebesar bumi, sebagaimana dalam hadits berikut :
Allah Azza wa Jalla berfirman, “…Dan barangsiapa menjumpai-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Aku, maka Aku akan menjumpainya dengan ampunan yang sepenuh bumi pula”. (HR. Muslim)
Dari hadits diatas bisa kita pahami bahwa Allah yang Maha Pengampun sudah bermurah hati untuk memaafkan semua dosa-dosa kita di masa lalu. Namun sayangnya, ada sebagian orang yang tidak menyadarinya dan merasa perlu melakukan pengakuan dosa atau curhat kepada suami, istri, orang tua, sahabat atau yang lainnya. Padahal dosa yang kita lakukan adalah aib yang seharusnya kita tutup rapat-rapat dan hanya kepada Allahlah kita wajib memohon pengampunan.
Nah, kalau kita saja sudah bertaubat dengan sesungguhnya kepada Allah dan Allah juga sudah memaafkannya, kenapa kita masih membuka aib masa lalu kepada orang lain? Seharusnya kita bersyukur, karena Allah tidak memperlihatkan dosa-dosa kita, termasuk aib dan dosa masa lalu dihadapan makhluk lain. Bisa Anda bayangkan bagaimana jika dosa-dosa Anda meninggalkan bau busuk, maka bukan tidak mungkin jika Anda tidak akan bebas melangkah kemanapun dan bergaul dengan siapapun.
Bersyukurlah bahwa Allah tidak membiarkan kita, hamba_Nya berkubang dalam lautan dosa masa lalu apalagi jika kita juga sudah bertaubat. Maka dari itu, janganlah menjadikan dosa masa lalu sebagai penghalang bagi kita untuk terlahir kembali menjadi hamba yang baik dan jangan pula masa lalu sebagai hambatan untuk menuju ke jalan yang benar. Bertaubat dengan sebenar-benarnya dan jangan pernah membuka aib tersebut kepada siapapun, termasuk pasangan Anda, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun, sebagaimana pada hadits berikut :
”Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Penutup aib. Dia mencintai sifat malu dan sifat menutup aib.” ( HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An Nasai)
Hadits diatas menunjukkan betapa Allah sangat mencintai orang yang memiliki sifat malu dan menutup aib. Allah tidak akan membiarkan hamba_Nya dihantui dosa masa lalu apabila ia sudah bertaubat, bahkan Allah yang Maha Pengasih justru membantu menutup aib kita di masa lalu. Oleh karena itu, jangan pernah membuka aib yang sudah ditutup rapat oleh Allah SWT, meskipun dengan alasan kejujuran. Teruslah melangkah, merenda hari untuk menjemput Ridha dan ampunan_Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Loading...
Previous
Next Post »
loading...