Suami Membantu Pekerjaan Istri? Kenapa Enggak!

Sumber gambar dari google 

 “Seorang suami adalah pemimpin atas seluruh anggota rumahnya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anaknya.” (HR. Bukhari - Muslim)

Peran utama seorang suami adalah sebagai pemimpin bagi semua anggota keluarganya, sedangkan peran utama istri adalah sebagai pemimpin atas rumah suami dan juga anak-anaknya. Betapa bijak dan adilnya aturan yang dibuat dalam islam, dimana lebih banyak menempatkan wanita di posisi yang paling mulia, yakni ratu dalam rumah tangganya.
Sesungguhnya, peran muslimah sangatlah penting dalam rumah tangga, karena ditangan wanita yang baik akan lahir generasi-generasi emas penerus perjuangan islam. Alasan itulah yang kemudian menjadi celah yang digunakan musuh-musuh islam untuk melemahkan generasi islam dan memecah belah umat hingga mereka tidak lagi ingat pada tujuan utama mereka diciptakan.
Berbicara mengenai suami yang membantu pekerjaan istrinya atau seorang istri yang sengaja meminta bantuan kepada suaminya. Sesungguhnya, islam sangat menghargai wanita dan islam juga mengajarkan umatnya agar tidak memperdaya para wanita. Melalui keteladanan Rasulullah Saw dan para sahabat berikut ini, kita bisa memahami bahwa :
  • Seorang suami tidak boleh merasa malu atau gengsi ketika melayani istri dan anak-anaknya (keluarga), sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dalam hadits berikut :
Pada suatu ketika, Al Aswad bertanya kepada Aisyah, “Apakah yang dikerjakan Rasulullah saw di rumah?” Lalu Dia menjawab, “Beliau biasa dalam tugas sehari-hari keluarganya –yakni melayani keluarganya— maka apabila telah datang waktu shalat, beliau keluar untuk menunaikan shalat” (riwayat Bukhari).
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ahmad, Aisyah ditanya,“Apakah yang dikerjakan Rasulullah saw di rumah?” Dia menjawab, “Beliau adalah seorang manusia biasa, membersihkan pakaiannya, memerah susu kambingnya dan melayani dirinya”. (HR. Ahmad)
Demikianlah Rasulullah saw, beliau memberikan contoh keteladanan dalam mengerjakan kegiatan “domestik” kerumahtanggaan, dilandasi oleh kecintaan beliau terhadap seluruh keluarganya. (HR. Ahmad)
Dari kedua contoh diatas bisa kita pahami bahwa Rasulullah tidak merasa gengsi ketika harus mengerjakan urusan domestik rumah tangganya dan melayani istrinya. Jika demikian, maka masihkah para suami merasa gengsi ketika membantu ataupun melayani istrinya?
  • Suami dan istri hendaknya saling bekerjasama dalam menyelesaikan urusan rumah tangga, sebagaimana yang dicontohkan keluarga Ali Bin Abi Thalib dan putri Rasulullah Fatimah Az Zahraa.
Dalam kitab Fathul Bari, Al Hafizh Ibnu Hajar menukilkan hadits riwayat Ahmad, yakni Ali pernah berkata pada Fatimah, “Demi Allah, aku selalu menimba air dari sumur sehingga dadaku terasa sakit”. Lalu Fatimah menjawab, “Dan aku, demi Allah, memutar penggiling hingga kedua tanganku melepuh”.
  • Suami harus selalu bersabar dalam menghadapi sikap dan perilaku istrinya, sebagaimana yang dicontohkan oleh Umar bin Khattab ra.
Diceritakan oleh Adz Dzahabi dalam kitab Al Kaba’ir dan Al Haitami dalam kitab Az Zawajir, dimana suatu ketika ada seorang lelaki yang mendatangi Umar ra untuk mengadukan perilaku isterinya. Ketika dia sampai di depan pintu rumah Umar, tiba-tiba lelaki itu mendengar isteri Umar tengah memarahi Umar. Pada saat itu, Umar hanya diam saja tanpa menjawab sepatah katapun. Mengetahui hal tersebut, lelaki itu langsung pulang sembari berkata dalam hati,”Jika keadaan Amirul Mukminin seperti itu, lalu bagaimana dengan saya?”
Tak lama kemudian, Umar keluar rumah dan melihatnya berpaling. Umar memanggil lelaki tersebut dan bertanyalah dia, “Apa keperluanmu?”
“Wahai Amirul Mukminin, sebenarnya saya datang untuk mengadukan sikap dan perbuatan isteri saya kepada saya, akan tetapi saya mendengar hal yang serupa terjadi pada isteri Anda, akhirnya saya pulang dan berpikir dalam hati, : ”Jika keadaan Amirul Mukminin seperti ini, lalu bagaimana dengan saya?”
“Wahai saudaraku! Saya tetap bersabar atas perbuatannya (istri), karena memang itu sudah kewajiban saya. Isteri saya sudah memasakkan makanan untuk saya, membuatkan roti untuk saya, mencucikan pakaian saya, dan menyusui anak saya, padahal semua itu bukanlah kewajibannya. Selain itu, dia juga membuat hati saya merasa tenang dan terhindar dari melakukan perbuatan haram. Karena itulah saya tetap bersabar dengan perilakunya tersebut,”jawab Umar.
Berkatalah lelaki tersebut, “Wahai Amirul Mukminin, isteri sayapun demikian.”
Kemudian Umar menjawab, “Karena itu, bersabarlah wahai saudaraku. Ini hanya sebentar.”
  • Istri harus selalu bersabar, ketika suami dalam kondisi kekurangan dan tidak mampu memberikan kebahagiaan sesuai yang dengan harapan, sebagaimana yang diceritakan dalam kisah Asma’ binti Abu Bakar.
 “Saya dinikahi oleh Az Zubair yang tidak memiliki harta, tidak memiliki budak di muka bumi ini, dan tidak mempunyai sesuatu kecuali unta pengangkut air dan kudanya. Maka itu, sayalah yang memberi makan kudanya, mengambil air, menjahit geribah (bejana tempat air), dan mengadoni roti. Saya tidak dapat membuat roti dengan baik, dan tetangga-tetanggaku dari kaum Anshar yang membuatkan roti, sedang mereka adalah wanita-wanita yang jujur”
“Saya membawa sendiri biji-biji kurma di atas kepala dari kebun Zubair yang diberi Rasulullah saw, yang jaraknya sejauh dua pertiga farsakh. Maka pada suatu hari saya datang dengan membawa biji-bijian di atas kepala, dan saya bertemu Rasulullah saw bersama dengan rombongan orang Anshar lalu beliau memanggil saya kemudian berkata, “Ehhh…” untuk menghentikan untanya hendak memboncengkan saya di belakang beliau. Saya merasa malu berjalan bersama kaum laki-laki dan saya ceritakan tentang Zubair dan kecemburuannya bahwa dia adalah orang yang sangat pencemburu. Rasulullah saw mengetahui bahwa saya merasa malu, maka beliau berlalu”.
Setelah Asma’ bertemu suaminya, ia ceritakan pertemuan dengan Rasulullah saw dan rombongan tersebut, Az Zubair berkata, “Demi Allah, sesungguhnya engkau membawa biji-bijian itu lebih berat bagiku daripada engkau naik kendaraan bersama beliau”. Asma’ berkata, “Setelah itu Abu Bakar –bapakku—mengirimkan pelayan kepadaku sehingga aku tidak lagi mengurus kuda, seakan-akan dia telah memerdekakanku” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Para Istri shalihah, hendaklah kalian terus semangat menjemput surgamu, karena sesungguhnya Allah menjanjikan balasan yang teramat mulia kepada para kalian atas pengabdian kepada suami dan anak-anakmu.

“Jika seorang istri melakukan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, memelihara kemaluannya dan menaati suaminya, niscaya dia akan memasuki surga Tuhannya.”

(HR. Ahmad).

Loading...
Previous
Next Post »