Loading...

Rahasia Dibalik Terompet dan Perayaan Tahun Baru

Moment pergantian tahun menjadi sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang, terutama remaja. Berbagai aktivitas dilakukan untuk menyambut malam pergantian tahun baru, dari mulai begadang, konvoi di jalanan, hura-hura, pesta tahun baru, dan lain sebagainya. Sayangnya, pada moment pergantian tahun, beberapa orang tidak sadar dan justru akrab dengan perilaku dan simbol-simbol yang jauh dari nilai islami.
Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai jika mereka masuk ke dalam lobang biawak gurun tentu kalian akan mengikutinya.” ( HR. Bukhori dan Muslim)
Topi Kerucut dan Terompet
Tahukah kalian apa makna topi kerucut yang sering digunakan pada tahun baru dan moment ulang tahun? SANBENITO merupakan sebutan bagi topi tersebut. Topi tersebut digunakan Muslim Andalusia untuk menandai bahwa mereka sudah MURTAD dibawah penindasan Gereja Katholik Roma yang menerapkan INKUISISI SPANYOL.
Kini, enam abad setelah peristiwa yang sangat sadis itu berlalu, para remaja dan anak-anak muslim justru memakai pakaian SANBENITO untuk merayakan tahun baru masehi dan merayakan ulang tahun.
Tahukah kalian, meniup terompet dan memakai ala SANBENITO sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Sebaliknya justru berasal dari kaum Kafir, kaum yang sudah merampas kejayaan Muslim Andalusia, dan menghancurkan sebuah peradaban maju Islam, Andalusia.
Nah, setelah tahu tentang sejarah ini, apakah kita masih tega mengenakan Topi atau meniup terompet SANBENITO?

Sejarah Topi Kerucut

Ingin tahu, bagaimana sejarah topi kerucut yang identik dengan moment perayaan ulang tahun tersebut? Dalam kajian Kristologi yang disampaikan Irena Handono, dahulu, pada masa Raja Ferdinand dan Ratu Isabela (keduanya penganut Kristiani) berkuasa di Andalusia. Ketika kaum muslimin dibantai, keduanya memberi jaminan hidup kepada orang Islam dengan satu syarat, yakni keluar dari Islam.
Maka untuk membedakan mana orang yang sudah murtad dan mana yang belum adalah dengan cara melihat seorang muslim menggunakan baju seragam dan topi berbentuk kerucut dengan nama Sanbenito. Jadi, Sanbenito merupakan tanda berupa pakaian khusus untuk membedakan mana yang sudah di-converso (murtad).
Menurut Irena, pada saat itu, umat Islam di Andalusia dibantai, kecuali yang memakai Sanbenito. Jadi memakai topi Sabenito sama artinya dengan bersedia mengikuti agama Ratu Isabela. Topi ala Sanbenito itulah sebagai simbol orang Islam yang sudah murtad. Topi itu digunakan saat keluar rumah, termasuk ketika ke pasar. Dengan menggunakan sanbenito, mereka akan aman dan tidak dibunuh.
Setelah pembantaian selesai, agenda Ratu Isabela selanjutnya adalah mengejar muslim yang lari dan bersembunyi ke Amerika Selatan. Muslim yang tertangkap lalu diseret ke lembaga inkuisi (penyiksaan) yang dilaksanakan oleh orang gereja. Adapun pastur pertama yang ditunjuk Ferdinand dan Isabela untuk melaksanakan inkuisi adalah pastur bernama Torquemada. Ia adalah Jenderal Yahudi yang dikenal sebagai pembantai umat Islam Andalusia.
Bukan hanya orang Islam saja yang diseret ke lembaga inkuisisi, tapi juga orang yahudi yang menolak masuk Kristen. Di tanah lapang, mereka kemudian ada yang dibakar hidup-hidup, ada pula yang disiksa dengan kayu yang diruncingkan sehingga bokongnya akan tertusuk. Penyiksaan lainnya ada yang dipatahkan kakinya. Kekejaman inkuisisi itu memang hendak membuat mati seseorang dengan secara perlahan, bahkan sambil tersenyum. Sadis!
“Ini menunjukan, Kaum Kristiani yang katanya memiliki slogan kasih, ternyata ahli di bidang penyiksaan, dan pembantai Muslim dan Yahudi. Jadi, jangan dikira lembaga inkuisisi itu sudah tidak ada lagi. Juga jangan mengira Knight Templar itu sudah tidak ada. Lembaga Inkuisisi dan Knight Templar itu masih ada hingga saat ini. Buktinya, George W Bush pernah mengatakan, ia diperintah Tuhan untuk melakukan pembantaian dengan menyebut Muslim sebagai teroris,” papar Irena. (baca : Buku Menyingkap Fitnah & Teror, Oleh : Hj.Irena Handono)

Topi Kerucut Merupakan Fakta Simbol Pemurtadan

Sejarah diatas adalah fakta yang tidak bisa ditutup-tutupi. Semua ada tertulis dalam tinta sejarah. Percaya atau tidak begitulah faktanya. Umat kristen tiada hentinya berupaya sedikit demi sedikit selangkah demi selangkah berusaha memurtadkan umat Islam, terutama yang bodoh agar minimal akrab dengan simbol-simbol mereka, lalu kemudian dimurtadkan tanpa sadar.
Perhatikanlah Sabda Nabi Muhammad Saw :
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”. ( HR. Abu Dawud, Shohih)
Ironisnya, banyaknya umat Islam yang awwam terhadap agamanya, membuat mereka tanpa sadar telah tergiring oleh tipu daya misionaris untuk minimal menerima simbol-simbol mereka. Na’udzubillah min dzalik.
Sumber (http://baitulmaqdis.com)

Loading...
Previous
Next Post »
loading...