Loading...

Peluk dan Ciumlah Anakmu, Maka Rahmat Allah Akan Mendatangimu

Ketika anak masih bayi, orang tua pasti selalu ingin memeluk dan menciumnya. Namun seiring bertambahnya usia, kebanyakan orang tua akan melupakan atau mengabaikan kebiasaan tersebut. Tak jarang orang tua menggunakan metode kekerasan pada anak agar anak mau menuruti perintah atau kemauan orang tuanya. Memang sich, orang tua diperbolehkan mendidik anak-anaknya dengan cara memukul, akan tetapi bukan dengan tujuan menyakitkan.
Sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam, “Perintahkanlah anakmu shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah dia karena (meninggalkan)nya pada usia 10 tahun dan pisahkan tempat tidur mereka.”(HR. Abu Daud no 495 dengan sanad hasan)
Memukul disini tentulah dengan kasih sayang dan bukan dengan tujuan menyakiti atau mencederai, misalnya memukul dengan nasihat yang agak tegas agar rajin beribadah kepada Allah. Oiya, kembali lagi ke masalah pelukan dan ciuman. Ketika anak berusia 10 tahun ke atas, orang tua pasti menghendaki anaknya lebih mandiri. Karena itu, kebanyakan mereka akan mengurangi atau menghilangkan kebiasaan mencium dan memeluk anaknya. Padahal memeluk dan mencium anak tetaplah harus dilakukan karena manfaatnya yang luar biasa bagi tumbuh kembang anak dan juga orang tuanya sendiri.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam "Tidaklah kelembutan pada sesuatupun kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatupun kecuali akan memperburuknya" (Dishahihkan oleh Al-Albani)
Bersikap keras atau memukul anak memang membuat mereka takut atau menurut, tapi itu hanya sementara karena kebiasaan orang tua yang keras dan pemukul justru menjadi contoh bagi anak-anak untuk melakukan hal yang sama pada orang lain. Bahkan kebiasaan tersebut juga bisa membuat anak semakin keras dan bandel.
Berbeda sekali apabila orang tua bersikap penuh kelembutan kepada anak-anaknya dan tidak pernah memukul, kecuali dalam kondisi terdesak atau yang tidak menjadikan pukulan atau bentakan sebagai senjata untuk mendidik anaknya. Sikap orang tua model ini akan mendatangkan dampak positif, yang diantaranya :
•    Orang tua akan terjaga kelembutan hatinya
•  Anak-anak akan memiliki pribadi yang penuh kelembutan dan berakhlak mulia. Hal itu akibat keteladanan yang diberikan kedua orang tuanya.
•    Ketika anak-anak dewasa, mereka akan mudah terkenang kebaikan, pelukan, kesabaran, dan semua kelembutan yang diberikan orang tuanya sehingga anak akan lebih berbakti dan mencintai orang tua di masa tuanya.
•    Kedua orang tua akan mendapatkan rahmat dan pahala dari Allah akibat kelembutan sikap dan perilakunya kepada anak-anaknya. Subhanallah…
Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya- berkata :"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin 'Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro' bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro' berkata, "Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallampun melihat kepada Al-'Aqro' lalu beliau berkata, "Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati" (HR Al-Bukhari no 5997 dan Muslim no 2318)
Dalam kisah lain yang sama dari 'Aisyah –semoga Allah meridhoinya- ia berkata : "Datang seorang arab badui kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata, "Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki?, kami tidak mencium mereka". Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa rahmat/sayang dari hatimu" (HR Al-Bukhari no 5998 dan Muslim)

Teladan Rasulullah tentang Sikap Lembut dan penyayang terhadap anak Kecil

Rasulullah sangat menyayangi dan selalu bersikap lembut pada anak kecil. Hal itu bisa kita lihat dari keteladanan Beliau dalam beberapa kisah berikut :
Suatu ketika Beliau tengah mengimami para sahabat. Saat dalam posisi sujud, maka datanglah Al-Hasan bin Ali bin Abi Thoolib dan naik diatas punggung Rasulullah yang tengah khusyu’dalam sujudnya. Rasulullahpun memanjangkan sujudnya. Hal tersebut membuat para sahabat heran. Kemudian mereka berkata : "Wahai Rasulullah, engkau telah memperpanjang sujudmu, kami mengira telah terjadi sesuatu atau telah diturunkan wahyu kepadamu"-pen), Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada mereka, "Bukan…, akan tetapi cucuku ini menjadikan aku seperti tunggangannya, maka aku tidak suka menyegerakan dia hingga ia menunaikan kemauannya" (*HR Ahmad no 16033 dengan sanad yang shahih-pen dan An-Nasaai no 1141 dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Dalam kisah lain, Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:"Sungguh ketika aku telah mulai melaksanakan shalat, sedangkan aku ingin memanjangkannya. Namun aku kemudian mendengar tangisan anak kecil, maka saya pun mempercepat shalat karena saya tahu perasaan sedih ibunya disebabkan tangisan itu."(HR. Bukhari: I/250, Ibnu Majah: I/216, Ibnu Khuzaimah: III/50, Ibnu Hibban: V/509, Abu Ya'la: V/441, dan Baihaqi: II/32)
Bahkan dalam waktu lain dikisahkan, ketika Rasul sedang berkhutbah, lalu Al-Hasan dan Al-Husain kecil datang mengenakan dua baju. Namun baju keduanya kepanjangan, sehingga mereka berdua tersandung-sandung jatuh bangun ketika sedang berjalan. Melihat hal itu, maka Rasulullahpun turun dari mimbar dan menggendong keduanya dihadapan beliau, kemudian beliau berkata: "Maha benar Allah…"Hanyalah harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah", aku melihat kedua anak kecil ini berjalan dan terjatuh, maka aku tidak sabar hingga akupun memutuskan khutbahku dan aku menggendong keduanya" (HR At-Thirmidzi no 2969 dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Subhanallah. Jika Rasul kita saja menyayangi anak kecil, masihkah kita sebagai orang tua memperlakukan anak-anak kita dengan keras? Yuk, biasakan untuk bersikap lembut, memeluk dan mencium anak-anak dengan penuh kasih sayang. Semoga anak-anak kita menjadi anak-anak yang berhati lembut, penyayang dan berbakti pada orang tua, dan yang pasti kita mendapatkan rahmat dan pahala dari Allah SWT. 


Loading...
Previous
Next Post »
loading...