Apartemen dan Sertifikat Untuk PSK, Apa Tidak Berlebihan?


Beberapa hari yang lalu, saya sempat dibuat terperangah ketika membaca berita di situs online. Bagaimana tidak, beberapa bulan sebelumnya, saya dibuat terharu dan bangga dengan perjuangan Bu Tri Rismaharini, Walikota Surabaya dengan susah payah dan penuh perjuangan menutup lokalisasi Dolly. Tapi di Jakarta, justru ada yang memiliki ide untuk memberikan fasilitas apartemen dan sertifikat pada para PSK. Alasannya agar bisa mengontrol PSK agar tidak menyebar kemana-mana. Masih menurut pendapatnya, memberantas praktik prostitusi itu sangat sulit, bahkan meski Nabi turun sekalipun, tidak dapat memberantas Pr*stitusi di Jakarta.(Tips-Tips Keren Seputar Mengolah Masakan)
Sebagai seorang istri dan ibu, saya hanya berdoa semoga masih banyak orang yang waras sehingga tidak mudah menerima ide yang nyeleneh itu. Keberadaan prostitusi illegal saja sudah cukup menyakitkan bagi para ibu, istri dan anak-anak, bagaimana jika dilegalkan? Bagi yang setuju dengan ide tersebut, coba bayangkan jika Anda berada pada posisi istri atau anak perempuan Anda sendiri. Apakah Anda rela ketika suami hoby bermain ke tempat pro*stitusi? Bayangkan juga jika Anda sebagai seorang ibu, relakah jika  anak yang merupakan tumpuan/harapan justru terjebak pada dunia prostitusi, terkena penyakit se*s, dan masa depannya hancur?
Ternyata bukan hanya saya yang gagal paham dengan ide aneh tersebut, beberapa teman saya di dunia maya juga ikut menyampaikan pendapatnya, ini salah satunya :
Demi memenuhi rasa keadilan sosial, maka selayaknya para begal, per*mpok, pencuri, pemerk*sa, penculik dan koruptor dilokalisasi dan disertifikasi juga, supaya penyakitnya tidak menyebar ke mana mana. Terbayang ada tulisan apartemen khusus begal, selain begal dilarang masuk, kawasan koruptor bahagia dll. (Status Mbak Lia Heliana)
Prost*tusi merupakan aktivitas s*ks bebas yang dilakukan diluar akad nikah yang sah. Pekerjaan kotor, mau dimodifikasi dengan cara apapun tetaplah kotor dan mendatangkan dampak buruk bagi masyarakat. Sudah banyak masalah social yang ditimbulkan adanya pr*stitusi, diantaranya ; perceraian, penyebaran penyakit se*s menular, aborsi, trafficking, dan lain sebagainya. Sayangnya, dampak buruk tersebut belum mampu membuka mata pemerintah sehingga praktik pela*uran semakin menjadi, bahkan memakan korban dari kalangan anak-anak dan remaja.
Dalam islam, prostitusi termasuk  perbuatan yang diharamkan karena tergolong perbuatan zina yang merupakan dosa besar. Islam memerintahkan umatnya untuk mencari penghasilan dengan cara halal dan baik, sebagaimana dalam hadits yang artinya :
"Janganlah menganggap rezki kalian lambat turun. Sesungguhnya, tidak ada seorang pun meninggalkan dunia ini, melainkan setelah sempurna rezkinya. Carilah rezki dengan cara yang baik (dengan) mengambil yang halal dan meninggalkan perkara yang haram" (HR. Ibnu Hibban (3239 dan 3241), Al Hakim (II/4), Al Baihaqi)
Jika pemerintah sadar akan dampak buruk prostitusi, harusnya ada tindakan tegas atau sanksi pidana pada pelaku pro*titusi, baik ger*o, pela*ur, maupun pemakai jasanya. Selain itu, upaya pencegahan lainnya adalah dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang layak sehingga tidak adalagi alasan untuk melegalkan prostitusi.
Mungkin ada yang berpendapat, “PSK penghasilannya tinggi, dikasih pekerjaan yang gajinya kecil, ya pasti kabur”.  Ya kalau pemerintah konsekuen memberlakukan tindakan tegas dan sanksi pidana pada pelaku pr*stitusi, mau tidak mau ya mereka akan berusaha kreatif dalam mencari nafkah dengan cara yang benar. Upaya lainnya yang harus dilakukan pemerintah adalah menjamin pendidikan pada warganya. 
Pesan Bang Napi:
Kejahatan bisa terjadi bukan saja karena ada niat si pelaku, tapi kejahatan juga bisa terjadi karena ada kesempatan. Waspadalah…waspadalah…!
Jika kesempatan untuk menjadi PSK terbuka lebar dan difasilitasi, bagaimana jika semakin banyak anak dan remaja yang lebih memilih menjalani profesi menjijikkan ini? Naudzubillah.

Loading...
Previous
Next Post »
loading...