Loading...

Menikmati Moment Tandem Nursing yang Berakhir Indah

Siapa sich yang bisa memprediksi datangnya kehamilan? Demikian juga denganku yang waktu itu tengah menikmati moment kebersamaan dengan baby kecilku Faris (waktu itu berusia 1.2 bulan). Tidak seperti biasanya, Faris jadi enggan minum ASI dan uring-uringan. Bingung dan cemas menghantui pikiranku, ditambah lagi rasa tidak nyaman ditubuhku. Aku berusaha mengabaikan rasa pusing dan mual yang kualami, karena aku pikir semua terjadi akibat kecapekan mengurus Faris yang rewel.
Aku dan Faris yang  saat itu berusia 1.2 tahun


Setelah beberapa hari lamanya, Faris mulai tenang dan mau menyusu kembali. Namun tak disangka, rasa tidak nyaman ditubuhku tak kunjung hilang, bahkan aku jadi sering muntah ketika mencium aroma masakan. Merasa aneh, akhirnya akupun iseng mencoba tes urin di pagi hari setelah bangun tidur. Sock banget rasanya, ternyata hasilnya dua garis alias positif. Duh, bagaimana ini? Mana aku masih menyusui lagi, bisa nggak ya aku bersikap adil pada Faris dan juga janin dalam kandunganku? Duh, Apa kata orang, anak masih bayi kok udah hamil lagi.
Ribuan pertanyaan menyesaki pikiranku. Jujur, aku merasa kurang siap menerima kehamilanku yang ketiga ini. Harusnya aku masih mencurahkan seluruh perhatianku untuk si kecil Faris, tapi kehamilan ini memaksaku untuk membagi hati dan perhatian. Menurutku ini sangat tidak adil buat Faris, sungguh aku merasa sangat bersalah saat itu. 
Namun apa mau dikata, penyesalanku tak akan  mampu merubah semuanya. Apa yang terjadi sudah menjadi KehendakNya, jadi mau tidak mau aku harus enjoy dan mencoba bahagia menerimanya. Beruntung suami sangat mensupportku sehingga aku tak perlu larut dalam perasaan bersalah dan cemas berlebihan.  “Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hambaNya, jadi jika Dia memberikan rejeki pada kita berupa anak, artinya Dia yakin kita mampu mengemban amanah ini,” begitulah nasihat suamiku yang berhasil menenangkan hatiku.

Support Dokter Kandungan Membuatku Lebih Bersemangat Lagi

Keesokan harinya, aku dan suami berinisiatif mengunjungi dokter kandungan untuk memastikan kondisi kehamilanku serta berkonsultasi masalah menyusui. Sebenarnya bisa saja aku menyapih Faris saat itu, toh dia sudah berusia 1.2 tahun. Namun entah kenapa ada rasa tidak tega dan nelangsa. Kehamilan ini saja sudah membuatku merasa sudah tidak adil terhadapnya, bagaimana jika aku harus merampas haknya untuk mendapatkan ASI?
Ternyata kandunganku dinyatakan sehat dan aman untuk tetap melanjutkan menyusui.  Bahkan dengan bijaknya, Dokter menasehatiku, “Tuhan itu Maha Adil, Bu, Dia selalu mencukupkan rejeki pada semua hamba_Nya. Jatah rejeki si kakak, tidak mungkin terampas oleh adiknya, demikian sebaliknya jatah rejeki bayi dalam kandungan juga tidak mungkin terampas oleh kakaknya. Artinya, tubuh ibu secara alamiah akan tetap memprioritaskan zat gizi kepada janin yang tengah tumbuh, tanpa mengurangi porsi  gizi yang dibutuhkan untuk memproduksi ASI.  Jadi Ibu tidak perlu cemas ya, lanjutkan saja proses menyusui kepada kakaknya.
Jujur hatiku merasa adem dan damai mendengar nasihat Dokter kandunganku. Meski begitu, Dokter juga memberikan penjelasan bahwa ibu menyusui saat hamil tetap harus berhati-hati dan waspada, terutama jika menimbulkan efek membahayakan bagi kehamilan dan janin, misalnya : kontraksi, keluar flek, dan lain sebagainya. Jika terjadi hal tersebut, dokter menyarankan untuk menghentikan proses pemberian ASI dan harus dilakukan pemeriksaan medis untuk memastikan kondisi kehamilan.
Sejak berkonsultasi dengan dokter, perasaan bersalahku pada Faris mulai hilang berganti kebahagiaan dan harapan baru. Jika pada kehamilan pertama dan kedua aku terkalahkan oleh morning sicknes dan cenderung lebih malas serta manja, kali ini aku justru melawannya dengan semangat bahwa aku harus sehat dan fit menjalani kehamilan dan menyusui. Demi Faris dan bayiku, aku harus sehat dan kuat! Demikian tekatku
Suami sampai heran melihat semangatku dalam menjalani kehamilan ketiga ini. Tidak ada lagi rewel minum susu ibu hamil, apalagi pilih-pilih makanan. Kondisi tersebut terus berjalan lancar, bahkan setiap bulan ketika aku memeriksakan kehamilan, Dokter selalu menyatakan janin dalam kandunganku sehat dan pertumbuhannya sangat optimal. Aku sangat bersyukur sekali. Namun rasa syukurku kian bertambah ketika mendapatkan kabar dari dokter  bahwa jenis kelamin bayiku adalah perempuan. 
Aku dan Bayi Cantikku, Zahraa (7 hari)
Oh My God, aku tak mampu menahan kebahagiaan ini. Suamikupun nampak bahagia, karena impian menimang bayi perempuan akan segera terwujud. Meski demikian, kami berusaha merahasiakannya hingga masa persalinan tiba. Surprise banget… bayi cantikku lahir dalam kondisi sehat walafiat dengan berat 4.1kg. Rasa syukur dan kebahagiaan terus terpancar dari wajah kami dan keluarga besar. Akhirnya moment mendebarkan kehamilanku berakhir indah.


Loading...
Previous
Next Post »
loading...