Loading...

Cara Mengirim Cerpen Anak Kompas Klasika

Suka menulis cerpen anak dan mau tulisanmu di terbitkan di Koran Kompas Klasika? Tentu dong, selain karyamu bisa mejeng di media massa, Anda juga akan mendapatkan fee yang lumayan looh. Sayangnya, tidak semua penulis tahu bagaimana bagaimana syarat cerpen anak di Kompas Klasika, alamat pengirimannya dan berapa banyak fee yang akan diterima. Nah, disini saya akan membagikan informasi tentang syarat menulis cerpen anak di Kompas Klasika dan seluk beluknya. Okey dech, simak aja yuk...

Syarat menulis Cerpen Anak di Kompas Klasika

1. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia
2. Naskah harus asli merupakan karya sendiri dan belum pernah diterbitkan di media cetak apapun sebelumnya.
3. Naskah dongeng maksimal 2500 karakter (no space)
font Times New Roman, 12 pt, spasi 1,5
3. Boleh mengirimkan lebih dari satu naskah
4. Melampirkan data diri lengkap penulis (Nama, Alamat, No. Telp/HP, No. Rekening)
Dikirim ke email: nusantarabertutur@gmail.com

Isi cerpen anak Kompas Klasika

Karena tujuan cerpen di kompas Klasika adalah untuk pengembangan karakter, maka dongeng yang dikirimkan, harus mempunyai pesan moral. Setidaknya, dongeng harus mengandung salah satu unsur berikut :
1. Jujur, religius
2. Disiplin, kerja keras, mandiri
3. Aktif, kreatif, bersemangat, mempunyai rasa ingin tahu
4. Demokratis, toleransi, cinta damai
5. Semangat kebangsaan, cinta tanah air
6. Menghargai prestasi
7. Bersahabat
8. Gemar membaca
9. Peduli sosial
10. Peduli lingkungan
Dongeng yang dikirimkan bisa berupa fabel, cerita tentang kerajaan, ataupun tema keseharian yang mengangkat kearifan lokal.

Honor Menulis di Kompas Klasika

Menulis cerpen anak di Kompas Klasika sangat lumayan looh, karena kita akan mendapatkan fee yang lumayan, yakni Rp. 150.000,-. Mungkin terlihat kecil, tapi lumayan untuk cerpen anak yang super pendek, sekitar 2.500 carakter no space. Selain itu, feenya juga cepet cair lho, dari pengalaman saya sich kurang dari seminggu sudah mendarat di rekening saja.

Cerpen Anak Saya yang Tayang di Kompas Klasika

                                                                             Pencil Ajaib
Suasana di Kebun Binatang Suarabaya nampak ramai gara-gara Paman Gajah membuka taman baca gratis dirumahnya. Semua satwa nampak antusias belajar dan memperluas pengetahuan melalui buku. Berbeda dengan teman-temannya, Piko si beruang madu justru malas pergi ke Taman baca.
“Hai Piko, ayo kita berangkat!”teriak Moli, si Orang hutan.
“Oh.. aku lagi tidak selera membaca buku,”jawabnya cuek.
“Loh, memangnya kenapa, bukannya dulu kamu paling bersemangat?”Moli nampak penasaran.
“Ah, percuma saja. Meskipun banyak membaca, tapi otakku tidak secerdas kalian,”ujarnya putus asa.
Moli berusaha membujuk agar Piko mau pergi bersamanya, namun Piko tetap bersikukuh menolaknya.
“Hai Moli, Hai Piko. Ayo kita berangkat!” tiba-tiba Reky si jerapah muncul mengagetkan mereka berdua.
Moli menjelaskan kejadian yang dialami Piko, Reky nampak manggut-manggut.
“Kamu jangan kuatir Piko, dengan pencil ajaib milik Pak Gajah, kamu pasti akan lebih cerdas,”sahut Reky.
“Pencil ajaib? Benarkah itu Moli?”tanya Piko memastikan. Reky dan Moli menganggukkan kepalanya secara bersamaan.
Ketiganya bergegas menuju ke Taman Baca paman Gajah. Sesampainya disana, ketiganya langsung menyampaikan keinginannya untuk meminjam pencil ajaib.
“Oh, jadi kamu yang kesulitan menghafalkan isi buku? Ya sudah, silahkan kamu pakai pencil ajaib ini,”ujar Paman gajah seraya menyerahkan pencilnya.
“Baca isi bukunya, coretlah mana bagian yang penting, kemudian hafalkan.” Itulah syarat yang harus dipenuhi Piko jika ingin berhasil.
Selama seminggu Piko bersama pencil ajaib. Hasilnya luar biasa, ingatan Piko tentang isi buku kian cemerlang.
Minggu pagi, suasana lebih ramai dari biasanya karena akan diselenggarakan lomba cerdas cermat antar satwa. Semua satwa antusias mendaftarkan diri sebagai peserta, namun Piko nampak ragu untuk ikut serta.
“Ayolah Piko, kita harus semangat!”ujar Reki dan Moli.
“Tapi aku tidak yakin bisa tanpa pencil ajaib,”ujar Piko sedih.
“Aku yakin kamu bisa, meskipun tanpa pencil ajaib,”Moli terus meyakinkan.
Giliran merekapun tiba. Meski awalnya pesimis, namun dengan semangat yang kuat, akhirnya Piko dan teman-temannya berhasil memenangkan perlombaan Cerdas cermat. Sorak sorai membahana ketika ketiganya tampil di panggung untuk menerima piala.
“Ternyata aku bisa sukses tanpa pencil ajaib,”pekik Piko.
“Iya dong, sebenarnya pencil itu adalah pencil biasa. Semangat kamulah yang sudah membuat kamu menjadi pandai dan menjadikan kita sebagai juara,”ucap Moli dan Reki seraya tersenyum bangga.

Gimana sobat, mudah bangeet khan? yuk gali idemu, tulis dan serbu media. Semoga berhasil yaaaa!

Tag : kumpulan cerpen anak kompas minggu contoh cerpen kompas anak kumpulan cerpen anak kompas cerita kompas anak alamat email kompas anak

Loading...
Previous
Next Post »
loading...