Dialah Suami Idamanku

Menikah dan membina keluarga bahagia adalah impian terbesar dalam hidupku. Aku akan berusaha keras mewujudkannya, apapun rintangan yang menghadang. Setelah prosesi ijab qabul, aku telah sah menjadi istri dan calon ibu untuk anak-anak kami. Artinya aku harus selalu siap menemani setiap derap langkahnya.
Tahun ini adalah untuk pertama aku tidak dilayani, tapi melayani. Yach jika biasanya setiap hari, ibu yang selalu bangun lebih pagi untuk menyiapkan segala sesuatunya sendiri dan ibu pula yang rela menahan lelah demi menyiapkan menu special untuk kami sekeluarga.
Kini, setelah aku menjadi seorang istri, otomatis aku harus mulai belajar melayani suamiku dengan sepenuh hati dari mulai bangun pagi menyiapkan sarapan hingga makan malam.
“Nduk, jangan lupa layani suamimu dengan baik ya! jangan sampai gara-gara kamu tidak bisa bangun pagi, lantas suamimu harus berangkat kerja tanpa sarapan,”kata ibu melalui sambungan telepon.
“In Sya Allah, Bu. Aku akan berusaha tidur lebih awal agar bisa bangun dan menyiapkan menu sarapan setiap hari,”jawabku yakin.
Setelah solat isya berjamaah, suamiku mempersilahkan aku istirahat lebih dahulu karena dia masih ingin mengaji. Agar tidak bangun kesiangan, aku sengaja memasang alarm handphone di samping bantal.
Hari pertama terasa berat bagiku. Dengan mata yang masih terasa lengket, aku beranjak dari pembaringan menuju ke dapur. Namun alangkah terkejutnya saat aku melihat semua hidangan sudah siap di meja makan.
“Trata… mau kemana mama cantik? Kamu mandi saja dulu, abis itu kita sarapan,”ujar suamiku yang ternyata mengutit dibelakangku.
Aku tak mampu menyembunyikan rona merah diwajahku. Ternyata suamiku sangat memahami kekuranganku yang tidak bisa bangun terlalu pagi. Memang sedari awal aku jujur padanya agar tidak terlalu tergantung padaku untuk masalah sarapan, karena aku sendiri belum terbiasa bangun dini hari.
“Makasih banyak ya, mas. Jadi malu nih, ternyata aku kalah duluan bangunnya,”ujarku sembari menyesap manisnya teh buatan suamiku.
“Tenang saja, suami istri tentunya harus saling melengkapi satu sama lain, ok!”jawabnya dengan ekspresi menggoda.
Jujur, semua yang kualami di hari-hari pertama bersamanya tak pernah terbayangkan sebelumnya. Seorang suami yang seharusnya kulayani, justru berbalik melayaniku. Ahay.. ternyata hubungan suami istri tak sepenuhnya monoton sebagaimana yang ditakutkan kebanyakan wanita.
                                                                 ***
Hari kedua dan ketiga berhasil kulewati dengan lancar. Alhamdulillah aku sudah mulai bisa bangun sendiri tanpa bantuan alarm. Melihatku sudah mandiri, suamikupun akhirnya percaya dan mulai berani memejamkan matanya setelah lelah merampungkan beberapa lembar ayat suci Al Quran.
Namun yang terjadi justru sangat mengecewakan. Awalnya aku bisa terbangun pada pukul 03.30, namun aku kembali memejamkan mata karena masih cukup lama untuk menunggu solat subuh. Harapanku, aku bisa kembali terjaga saat pukul 04.30. Ternyata, aku keasyikan tidur hingga jarum jam menunjuk angka 05.15. Aku segera melompat dari pembaringan.
“Astaghfirullah, Mas. Hampir saja kita terlambat solat subuh,”ujarku sembari membangunkan suamiku.
“Alhamdulillah, masih keburu. Yuk segera bersiap!”ujarnya seraya berlari menuju ke kamar mandi.
Dengan cekatan, kami segera mandi dan berwudhu untuk kemudian melaksanakan solat subuh berjamaah.
“Maafkan aku, mas. Gara-gara kecerobohanku, kita jadi tidak bisa sarapan,”ucapku penuh penyesalan.
“Tidak apa-apa, sayang. Mas juga salah kok, tidak seharusnya aku bergantung padamu khan?”ujarnya menghiburku.
Suamiku sangat memahamiku. Setiap kali aku melakukan kesalahan, dia justru mengakui segala kesalahan ada padanya. Sungguh, aku merasa sangat dihargai dan dimuliakan olehnya. Cerita-cerita buruk tentang suami yang egois dan suka menuntut istri sangat jauh dari sifat suamiku. Diam-diam aku merasa bersyukur karena Allah dan kedua orang tuaku sudah memilihkan aku seorang imam yang teramat sempurna untukku.
Sebagai tanda permintaan maafku atas kejadian pagi tadi, aku sengaja masak menu makan malam yang special untuknya. Memang sich resepnya aku contek dari mbah google, namun ternyata hasilnya tak kalah special dari masakan restoran.
Sepulang dari kantor, suamiku nampak terpukau dengan hidangan yang ada diatas meja makan,”ini semua buatanmu sendiri sayang?”ujarnya setengah tak percaya.
“Ya iyalah, Mas. Makanya jangan ragukan kemampuan istrimu ini,”ujarku merajuk.
“Hem hem, jadi penasaran nih, kira-kira rasanya seenak penampilannya nggak ya?”kata suamiku dengan lirikan mata menggoda.
Aku yang sedari tadi merasa lemas menahan perut keroncongan, jadi semangat untuk mencubit pinggangnya,”iih, nakal.. nakal.. nakal, masakanku pasti enaklah,”jawabku sambil tertawa.
 “Hem, lezatnyaaa…!”ujar suami dengan logat mirip film anak-anak “Upin-ipin”
“Ish.. ish ish… tak boleh!” akupun menirukan logat kak rose saat melarang adik-adiknya mengambil makanan. Dan kami berduapun tertawa lepas.
Sungguh, aku bisa merasakan sesuatu yang luar biasa indah bersamanya. Jika hari-hari bersama keluargaku sudah sangat indah, maka kebersamaan dengan pasangan hidupku sangat luar biasa indah. Kami tidak hanya saling tergantung, tapi kami juga saling melayani satu sama lain.

Loading...
Previous
Next Post »
loading...