Wasiat Terakhir Ibu

Menyesal, mungkin rasa itulah yang terus membayangi hidupku. Wanita yang begitu berjasa dalam kehidupanku telah pergi untuk selama-lamanya tanpa meninggalkan pesan sedikitpun. Kepergian yang teramat mendadak, hingga akupun tak sempat berada disisinya, apalagi mentalqinkannya sebagai baktiku yang terakhir kalinya.
“Ampuni anakmu yang bodoh ini, Bu,”bisikku disamping tubuh yang terbujur kaku.
Tak ada jawaban seperti biasa yang kudengar dari bibirnya yang mulai keriput. Sungguh, kalau boleh meminta, aku ingin Allah memutar ulang waktu sehingga aku bisa lebih membahagiakannya dan membuat hari-harinya penuh senyum kebahagiaan.
"Ya Allah, aku memang anak durhaka,”bathinku terus bergejolak.
   ***
“Nak, jangan pindah dari sini, ibu nggak bisa jauh dari cucu-cucuku,”ibu memohon padaku kala itu.
“Bu, seminggu sekali aku akan ajak mereka kesini,”kataku mencoba menghiburnya.
Sebenarnya akupun sangat berat meninggalkan rumah yang menaungiku sejak kecil, namun kondisi memaksaku berbuat ini. Istriku merasa kurang bebas tinggal bersama ibuku.


 
Sebenarnya ibu sangat baik dan sayang padanya seperti dia menyayangi anaknya sendiri. Namun ada sedikit sifat ibu yang membuat istriku merasa tidak nyaman, yakni ibu suka tidak terima dan ikut campur ketika istriku ataupun aku memarahi anak-anaku. Aku sich mengerti, semua itu karena rasa sayangnya yang berlebihan kepada anak-anaku.
Dan bodohnya, sisi hatiku yang lain membenarkan saja pendapat istri dan juga teman-temanku bahwa kehadiran nenek dapat memberi pengaruh buruk pada anak. “kalau anakmu terlalu dimanjakan, dia akan menjadi anak yang tidak bertanggung jawab”, “kalau anakmu selalu dibela, maka mereka akan merasa benar dan tidak menghormatimu”, dan masih banyak bisikan-bisikan yang akhirnya membulatkan tekatku untuk pindah dari rumah ibuku.
Aku anak semata wayang dalam keluargaku, karenanya ibu begitu getol melarangku membeli rumah baru. Awalnya aku menuruti saja, toh kasihan juga ibu kesepian karena setiap hari ditinggal ayah beraktivitas diluar. Keberadaan anak-anakkulah yang mampu membuatnya tersenyum ditengah penyakit yang menderanya. Yach, sudah sejak lama ibu menderita gangguan jantung sehingga membuatnya harus ekstra rajin check up ke dokter.
Sebenarnya hati kecilku menangis manakala mengingat besarnya jasa ibu kala menemani proses persalinan istriku hingga merawat bayi mungil yang seharusnya menjadi kewajibanku dan istriku. Dia tidak pernah mengeluh, dengan telaten dia merawat anak-anakku hingga mereka besar kini. Kadang terbersit rasa iri dihati, manakala anak-anakku lebih memilih mengikuti nasihat neneknya dibandingkan kami, orang tuanya.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai sepakat menuruti istriku untuk hidup mandiri tanpa campur tangan ibuku. Yach, kami sepakat ingin mendidik anak-anakku menjadi anak yang tidak manja, tidak cengeng, dan yang pasti menuruti kehendak kami selaku orang tuanya.
“Ya sudah, Nak, ibu doakan semoga cucu-cucu ibu kerasan di rumah baru,”kata Ibu tak mampu lagi mencegah kepergianku, namun aku melihat cristal bening menggenang dipelupuk matanya ketika mengantarkan kepindahanku.
Aku melihat, ibu sosok yang paling sibuk mempersiapkan dan mengecek perkakas, terutama untuk kepentinganku dan cucu-cucunya,”Ibu jangan capek-capek, nanti kambuh loh,”ujarku mengingatkan.
Ibu hanya tersenyum mendengar peringatanku. Dia tetap semangat mendampingi anak-anakku menyiapkan semua barang yang akan dibawa ke rumah baru.
                                                                                       ***
Pindah rumah tak serta merta membuat anak-anakku rela pindah ke sekolah yang baru. Memang sich, jarak antara rumah baru kami ke sekolah lamanya tidak terlampau jauh, kira-kira 8 km. Awalnya aku dan istri sangat getol merayu mereka agar mau pindah sekolah, namun akhirnya kamipun mengalah ketika melihat keberatan dimatanya. Demi kenyamanan dan kebahagiaanya, kamipun menuruti permintaan anak-anak untuk tetap bertahan di sekolah lamanya.
Setiap hari mereka dijemput oleh si Mbak, assisten rumah tanggaku yang khusus mengantar jemput anak-anak ke sekolah. Peluang itu dimanfaatkan ibu untuk melepas dahaganya bermain dengan anak-anakku, karena jarak rumah ibu ke sekolah anak-anak memang cukup dekat. Sepulang sekolah, anak-anak selalu memaksa si Mbak mampir ke rumah neneknya.
Aku dan istri tidak mampu berbuat banyak karena anak-anak lebih memilih menghabiskan harinya bersama neneknya ketimbang bermain di rumah barunya. Ya sudahlah, toh selama seharian kami juga sibuk dengan rutinitas pekerjaan di kantor.

Meskipun pindah rumah, tapi setiap weekend kami selalu menyempatkan waktu bersama ibu. Anak-anak sangat bahagia bisa bermain dan menginap di kamar lamanya bersama neneknya. Kebiasaan itu terus kami lakukan sebagai bentuk kasih sayang pada anak-anak dan juga ibu.
Tiga bulan kemudian, assisten rumah tanggaku pulang kampung untuk menikah. Kondisi tersebut memaksa kami bergerak cepat untuk mencari penggantinya. Namun hingga waktu lama, kami masih belum menemukan asisten rumah tangga yang cocok. Ibu dengan penuh semangat menawarkan solusi agar anak-anak berada dalam pengawasannya.
“Pagi-pagi ketika kalian berangkat kerja, antarkan anak-anak kesini, nanti saat kalian pulang kerja, kalian bisa menjemputnya,”ucapnya dengan sorot mata penuh pengharapan.
Tidak punya pilihan lain, kamipun tak mampu menolak permintaan ibu, “ya sudahlah, Bu, sepertinya keputusan itu yang terbaik,”jawabku.
“Horee, setiap hari aku bisa bersama-sama nenek,”teriak sulung dan bungsu secara bersamaan. Tak ayal keputusan kami membuat sang nenek dan anak-anak sangat gembira.
Ah entahlah, kadang aku merasa menjadi anak yang kurang ajar karena menjadikan ibu sebagai pengasuh anak-anaku. Tapi mau bagaimana lagi, ibu sendiri yang mau dan anak-anak sendiri sangat mengharapkannya.
Suatu ketika kondisi ibu drop dan harus diopname di rumah sakit. Rasa bersalah menyeruak ketika dokter mengatakan kalau ibu kelelahan. Meski dalam kondisi lemah, ibu masih saja mencemaskan anak-anakku.
“Sudahlah, Bu, biarkan aku mencari asisten untuk mengurus anak-anak,”pintaku. Aku sengaja meminta ijin pada ibu, karena sifat ibu sangat halus. Aku sangat takut menyinggung perasaannya.
Ibu menggeleng perlahan,”kamu tenang saja, istirahat cukup pasti membuat kondisi ibu membaik,”ujarnya meyakinkan. Ibu memang selalu begitu, dia tidak pernah rela anak-anakku bersama asistennya.
Benar, keesokan harinya dokter menyatakan kondisi ibu membaik dan boleh pulang. Beberapa hari lamanya kami sengaja menginap di rumah ibu untuk menemani dan mensupport kesembuhannya, namun setelah kondisi ibu benar-benar sudah sehat kamipun pamit pulang ke rumah.
Satu bulan berlalu, kondisi ibu terus stabil dan tidak ada masalah dengan kesehatannya. Kekhawatiranku terhapuskan manakala melihat ibu kembali ceria saat menemani anak-anak outbond di sekolah.
Namun hari Jumát sore, aku dikejutkan ketika putra sulungku sesengukan melalui telepon,”ayah, nenek tidak mau bangun, padahal sudah sore dan adik belum mandi,”ujarnya.
“Mungkin nenek kecapekan, jangan diganggu ya, kamu yang mandiin adik aja!”jawabku santai. Tidak ada firasat apapun kala itu karena aku pikir ibu pasti kecapekan saja. Toh sudah sebulan ini kondisi kesehatan ibu  terus membaik.
Menjelang maghrib, teleponku kembali berdering,”kenapa lagi, Kak?”tanyaku.
“Nenek meninggal, ayah, nenek meninggal,”ujarnya sesengukan.
Bagai dihantam palu godam, seketika tubuhku terasa berat,”iya, ayah segera pulang,”jawabku.
“Bram, ibumu sudah pulang, Nak,”terdengar suara ayah melalui handphone anakku.
“Iya, Yah, aku dan Lili segera pulang,”jawabku seraya berkemas.
Selama perjalanan pulang, Aku dan Lili saling bungkam. Perasaanku campur aduk antara sedih, marah dan kecewa. Aku terus mengutuk diriku sendiri karena tidak ada disisi ibu disaat terakhirnya. Lili hanya menatapku iba sambil sesekali menyeka air mata yang terus membanjiri pipiku.
“Kamu yang sabar ya, Ayah, jangan menyalahkan dirimu sendiri,”ujar istriku mencoba menghiburku.
Hambar, itulah yang kurasakan saat itu. Istriku yang biasanya mampu menenangkanku justru membuatku merasa muak. Ya, seandainya dia mau bersabar dan tidak mengajakku pindah rumah, pasti kejadiannya tidak ada sepedih ini. Ah, menyalahkannya juga bukan solusi, toh aku sendiri juga sama bodohnya,”pikirku ketika mobilku sampai didepan kerumunan orang yang tengah menyiapkan prosesi pemakaman ibu.
Anak-anak berlari menghampiriku, “ayah, aku tidak punya nenek lagi ya?”tanya si bungsu dengan polosnya.
Aku tersenyum seraya mengelus rambutnya,”nenek pulang ke rumah Allah, Wulan doain nenek ya!”hiburku seraya menahan cristal bening agar tidak tumpah lagi dihadapan putriku.
Kulihat ayah tak kuasa menahan kepedihannya. Ternyata bukan hanya aku yang tidak memiliki kesempatan untuk mengantarkan kepergiannya, ayah yang tengah asyik bermain catur bersama tetangga juga tidak memiliki firasat apapun sehingga dia baru menyadari kepergian ibu saat membangunkannya shalat maghrib. Beliau mendapati tubuh ibu sudah terbujur kaku dan dingin sekali.
Menurut cerita sulungku, siang hari setelah shalat dhuhur neneknya minta diambilkan teh hangat. Setelah itu nenek pamit mau istirahat sebentar dan meminta sulung menjaga adiknya. Melihat neneknya sudah tidur dengan tenang, sulung berinisiatif menyalakan AC agar neneknya bisa semakin nyenyak.
Sore harinya, dia merasa lapar, tapi neneknya tak juga bangun. Akhirnya sulung mengambil sendiri makanan yang sudah tersedia di meja makan. Namun ketika waktunya si adik mandi, sulungpun kembali membangunkan neneknya. Merasa tidak mampu membangunkan neneknya, diapun menelpon ayahnya yang tengah di kantor.
Aku tak mampu mengucapkan sepatah katapun selain memeluk tubuh putraku erat. Sungguh aku menyesal, kenapa harus anakku yang ada disitu, kenapa bukan aku, anak satu-satunya yang berkewajiban menemani dan mentalqinkannya.
Malam harinya, tanpa sengaja aku menemukan sepucuk surat tergeletak di meja ibu. Perlahan kubaca surat tersebut dengan air mata berderai. Melalui surat itu, ibu berwasiat agar kami bersedia kembali kerumahnya dan dia meminta kami lebih mengutamakan anak-anak dibandingkan kesibukan mengejar harta. Ya Allah, ternyata ibu sudah memiliki firasat akan kepergiannya, hanya saja sepertinya dia tidak ingin kami terlalu mencemaskannya. Semoga Allah mengampuni kekhilafanku dan menempatkan ibuku di surga_Nya. Amiin..

Loading...
Previous
Next Post »
loading...